Rabu, 01 November 2023

Agama dan Krisis Manusia Modern

Resume Buku Agama dan Krisis Manusia Modern

 

Bagian Ketiga

Agama, Manusia, dan Kenabian

A. Mengenal Agama

     Artinya agama hanya sebagai realita sosial yang harus ada. Itu pun definisi yang ditawarkan cenderung mengekspoitasi retorika tanpa fakta wujud yang jelas. Sekian banyak teori tentang agama yang dipelajari, tetapi wujud agama tidak ditemukan. Dengan berbagai jenis kebukuran yang dilakoni oleh manusia di muka bumi ini, menunjukan bahwa agama tidak menampakkan fungsinya.
     Atau sebaliknya, atau ada orang yang mamahami agama tetapi tidak mengamalkan ajaran agama. Satu hal yang penulis ingin sharingkan bahwa, agama sesungguhnya tidak dan bukan urusan fisik. Oleh karena itu jika beragama itu hanya mengandalkan fisik, baik pengetahuannya maupun ‘amalnya, maka hal itu merupakan suatu yang absurd. Begitu banyak, kalau dalam Islam, dalil yang mengingatkan bahwa Tuhan tidak menilik jasmniah-lahiriah tetapi Tuhan memandang akan isi hati yang hadir di hadapan-Nya.
     Tinggal nanti dalam beragama itu menetap di mana, dan apanya yang tetap dari orang yang beragama itu, dan bagaimana cara menetapnya. Kata al-iqâmaṯ satu Isytiqâq atau asal kata dengan qâmâ-qiyâman, yang jika diterjemahkan adalah ‘berdiri’. Akan lenyap tanpa bekas pengertian secara bahasa ini jika tidak dilanjutkan dengan mencari apa bentuk pendirian yang dimaksud. Apa yang didirikan.
     Di antara jawaban yang terurai nantinya, terkait dengan kata aqâma di atas, akan ada penjelasan tentang "aqimi al-shalâta". Jika kembali ke garis awal bahwa agama itu tidak mengurus fisik, atau tidak sangkut paut dengan fisik, maka untuk menemukan agama jangan beroriantesi kepada sesuatu yang bersifat meteri. Sesungguhnya agama itu untuk mengurus wujud yang di dalam fisik. Wujud yang di dalam fisik itu disebut unsur "ruhaniyah".
     Unsur ini yang datang dari Tuhan. Kepada wujud yang di dalam fisik inilah ajaran agama ditujukan. Oleh karena wujud yang di dalam fisik inilah yang "subyek" dalam beragama. " Di dalam ajaran Islam, wujud yang di dalam fisik ini dikenal dengan nama "ruh’.
     Ia datang kemudian empat bulan sepuruh hari ke dalam rahim seorang ibu untuk menyempurnakan kejadian manusia yang sedang dikandung oleh seorang ibu tersebut.

B. Mengenal Manusia dan Mukmin

     Pada bagian ini kita menelusuri pengenalan terhadap manusia yang di dalam Alquran dikenalkan dengan terma insân. 90 Semua orang ketika ditanya «apa insân/manusia?» pasti jawabanya menunjuk wujud tubuh yang seonggok ini. Manusia yang penulis maksud dalam tulisan ini ialah pada terma «al-insân» atau al-nâs perspektif teks-teks Alqur'an. Di dalam kitab Alquran kata «basyar» menunjuk arti «tubuh manusia» yang lapis luarnya berkulit dan berbulu.
     Jika manusia itu bukan tubuhnya, maka bahasan tentang manusia harus mengarah kepada sesuatu yang sifatnya non lahiriah. Keduanya sama-sama non lahiriah, tetapi insân/manusia menunjuk orang yang tidak luput dari jeratan hawa-nafsu-dunia-setan. Fisik yang laki-laki dan perempuan itu yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Ujung teks atau keterangan ayat ini menegaskan bahwa manusia yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku itu tidak bisa mencapai kemuliân.
     Karena sifat kemanusiaan pada jasadnya yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku itu hanya sebagai instrumen saling mengenal. Saripati keempat unsur itu dibahasakan oleh teks-teks Alquran sebagai «sulâlatun min al-thîn dan sulâlatun min mâ`in mahîn» Dia yang menyuruh manusia itu memikirkan asal kejadiannya. Penjelasan bahwa ia dicipta dari air yang tepancar yang keluar dari tulang sulbi pada laki-laki dan tulang dada perempuan. Baru kemudian bersebut dia air mani, yang ianya merupakan saripati tanah.
     Di dalam saripati tanah yang dipancarkan dari tulang punggung/sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan itu telah terdapat empat anasir seperti dijelaskan hadis di atas. Rahasia air bernama rûh rahmâni, dia yang mengadakan nafsu, yaitu sifat pantang kerendahan. Dalam kajian hikmah, untuk mengenal mukmin kita harus mengenal îmân yaitu sosok kepercayân Allah yang sedangan eksis dalam tubuh manusia. Ternyata yang shalât itu adalah mukmin tidak manusia/insân.
     Berhubungan yang dimaksud di atas ialah ingat secara hakikat. Dzikr sebenarnya inti atau sisi terdalam dari pengertian shalâṯ yang dapat diartikan hubungan. Oleh karena itu dengan makna shalâṯ seperti ini maka harus ada shalâṯ dalam rukun sembahyang yang tigabelas, dalam puasa dan seterusnya. Oleh karena semua ibadah dan anjuran kebaikan itu adalah untuk terpeliharanya yang di dalam hati dari penyakitnya.
     Sesunggunya penyakit hati itu adalah yang bernama manusia/insân seperti dijelaskan di atas. Di tempat itu pulalah diri yang dalam hati ini dipisah dari penyakitnya. Kalau hanya melaksanakan rukun sembahyang yang tigabelas tapi tidak ada hubungan hati kepada Tuhan, maka tidak shalat namanya.

C. Misi Tunggal Kenabian

     Ruh atau mukmin yang diertakan kepadanya sifat sihddiq-amanah-tabligh- fathana, luluh kadang lebuh ke dalam sifat insan, maka yang sering tampak oleh perilaku ruh adalah sifat insan atau manusia tadi. Oleh karena ruh ini berkedudukan kepercayân Tuhan atau wujud yang dipercaya Tuhan untuk menyempurnakan kejadian manusia, maka Tuhan seperti memberikan konvensasi, ayitu dengan mengutus para auliya-anbiya ke permukân bumi. Para auliya ini adalah manusia biasa yang hatinya ditunjuk atau diberikan hidayah oleh Tuhan. Bagian yang penting dari Tugas para auliya-anbiya ini adalah bahwa mereka mengenalkan tempat berjumpa dan bertemu Tuhan kepada kaum merekaDalam spektrum yang lebih luas dalan dalam serta universal, para auliya-anbiya ini tidak dibedakan tugas mereka ini adalah mengenalkan dan mengajarkan tentang kitab dan hikman.
Artinya kalimat «wa anzala ma’ahum al-kitâba» pada teks di atas bukan kitab yang tergores di atas kertas seperti yang 104 kitab itu.
     Adapaun kitab yang dimaksud Tuhan itu dalah kitab yang tidak diturunkan di atas kertas. Adapun yang 104 kitab itu adalah rekam jejak apa-apa yang dilafazhkan oleh para nabu itu. Lalu isi bunyi yangdilafazhkan itu ditulis baik langsung oleh nabi yang bersangkutan maupun oleh orang sekelilingnya. Artinya kitab yang dari tuhan bukan berupa tulisan di atas kirtas.
Sekali lagi penulis ingin sampaikan dan tegaskan bahwa kitab yang diperintah baca sepeti di atas adalah tulisan yang bukan hurut di atas kertas. Tambahan argumen ialah bahwa Muhammad yang tubuh kenabiannya tidak mengenal baca tulis diperintah membaca oleh Allah . Padahal pada surat yang sama ayat 48 ditegaskan bahwa Muhammad tidak pernah membaca dan tidak pernah menulis dengan tangan kanan.
     Ternyata pada yang yang 49, bahwa kitab yang diperintah baca itu adalah ayat yang nyata di dalam dada bagi orang-orang yang diberitahu. Ialah kitab itu ayat di dalam dada yang diturunkan bersamân dengan ditiupkannya ruh ke dalam dada manusia. Kitab inilah yang harus dîkuti dan yang jangan mengikuti eujud yang lain di dalam dada itu yaitu hawa-nafsu-dunia-seta.

Perkembangan Periode Sekolah Dasar

https://pin.it/bPJzXGZfh Anak-anak merupakan generasi yang akan mempunyai kehidupan yang sejahtera bagi bangsa. Anak pada kelompok usia ini ...